Minggu, 29 November 2015

Nulis Cerpen ala Ken Hanggara


Menulis Cerpen bagi Ken Hanggara bukan lagi sebuah hal langka. Ia telah menoreh berbagai prestasi dalam tulis menulis, terutama Cerpen, mulai dari skala lokal sampai nasional. Dan, tips-tips yang akan dibagikannya kepada kita kali ini adalah salah satu tulisannya yang dimuat dalam buku "Menulis Cerpen Itu Gampang" karya Ken Hanggara, penerbit Unsa Press, 2015. Yuk langsung disimak dengan seksama!


1. Judul yang Memikat 

Judul ibarat wajah, kepala, baju, dan segala asesoris yang dipakai "seorang" cerpen. Semua terlihat dari luar. Maka sepatutnya judul dibuat memikat, mengikat, mengundang rasa penasaran dengan sejuta tanda tanya. Kamu percaya cinta pada pandangan pertama? Love at the first sight? Bagi sebagian orang itu omong kosong. Tapi percayalah, bagi pembaca cerpen, cinta semacam itu wajib!
Cerpenmu gak menarik minat pembaca jika judul yang kamu buat ngebosenin, jadul, klise (itu-itu saja), bikin ngantuk, dan pasaran. Maka buatlah gebrakan baru soal judul. Dan satu lagi, jangan ikut-ikutan!

Cara membuat judul yang bagus adalah sebagai berikut:
a. Gunakan kata-kata yang tidak lazim 
Tapi, jangan sampai gak ada hubungan dengan isi cerpenmu. Ibaratnya kamu punya kebun mangga tapi di pagar depan ada tulisan: "Ternak Sapi". 'Kan gak lucu? Buat kata-kata yang tidak lazim tapi tetap berpegang pada isi cerpenmu. Contoh judul yang tidak lazim ini misalnya: "Travelogue" (judul salah satu cerpen Seno Gumira Ajidarma).
b. Kreatif alias jangan meniru-niru 
Misal kamu lihat temen bikin cerpen judulnya "Ketika Senja Menjadi Tangis", kamu tertarik lalu bikin "Ketika Pagi Menjadi Tangis". Padahal ceritamu beda jauh sama cerita temenmu, atau malah beda jauh sama judul itu sendiri. Duh, keliatan maksa nyonteknya. Buat judul yang sekiranya belum pernah ada. Contoh: "Minus Menangis".
c. Buat pembaca penasaran dengan judulmu
Gimana caranya biar orang penasaran? Jawabnya adalah saat kamu merasa penasaran dengan cerpen orang lain sesaat setelah baca judulnya (ya iyalah!). Caranya dengan membuat judul yang berpusat pada konflik. Misal kamu nulis tentang ibu yang diam-diam rela lapar demi anaknya. Ibu itu kemudian sakit dan pingsan di tepi jalan. Maka judulnya bisa begini: "Maaf, Jatah Makan Malammu Kuambil, Bu." Kira-kira penasaran, gak? Kok ada ya, anak yang tega ngambil makanan ibunya. Pasti yang ada di pikiran pembaca itu. Padahal aslinya enggak.
d. Hindari memakai pola judul yang sama dengan orang lain
Misal kamu seneng ngelihat judul novel terkenal "Ayat-Ayat Cinta", lalu kamu merasa kagum dan pengen punya karya fenomenal juga, hingga membuat judul yang kira-kira berbunyi: "Surat-Surat Cinta", "Jari-Jari Cinta", "Daun-Daun Cinta" -_- Tidak salah kok membuat judul dengan pola yang sama dengan judul yang sudah ada. Cuma ya jangan keseringan, nanti pembaca bosan dan malah mungkin enggan membaca cerpen kita. Ingat, terobosan, terobosan!
e. Sesuaikan judul dengan target pembacamu. Kalau kamu nulis cerpen untuk remaja, judul seperti "My Sweet Diary" boleh-boleh saja. Tapi masa iya kita nulis cerpen untuk anak-anak, malah dibikin judul: "Ketika Aku Terjerat Dilema". Gak cocok banget, 'kan?

Yang tak kalah penting dari penulisan judul adalah: Buatlah judul setelah cerpenmu selesai. Ini lebih mudah membuatmu mengembangkan cerita dengan bebas meski dalam satu konflik. Kamu tidak akan macet hanya karena terikat oleh judul yang sudah ditetapkan. Tapi ada juga sih, yang lebih mudah menulis dengan membuat judul lebih dulu. Itu sah-sah saja. Tinggal pilih mana yang kamu nyaman.


2. Opening yang Menjerat

Kalau judul ibarat penampilan luar, maka opening adalah tingkah laku. Attitude! Bayangin, kamu ketemu orang baru, kenalan baru. Kelihatannya sih asyik, seru, baik, ramah, sopan... ah, pokoknya perfect lah. Eh, ternyata, setelah kenal beberapa menit aja, kamu udah bosen hanya karena cara bicara dia yang tidak sopan atau kurang ajar. Nah, judul yang bagus saja tidak cukup untuk cerpenmu. Opening yang bagus juga penting lho. Karena sejak kalimat-kalimat pertama, orang akan tahu dia mau atau tidak meneruskan membaca cerpenmu. Maka, opening harus menjerat, nendang, mengundang penasaran, menggugah perasaan, dan menyimpan kejutan.

Contoh opening yang ngebosenin kira-kira begini:
Matahari bersinar begitu terik, membelai rerumputan di halaman depan rumahku, sekaligus mengurung hatiku yang sepi dan sendiri dirundung gundah gulana. Pohon-pohon berbaris riang di sepanjang jalan depan, tapi aku meriang dan merana di tepi jendela. Ada awan berarak yang nampak malu-malu. Aku menangis mengingat segala luka masa laluku.

Ini bosen banget, kurang menggairahkan. Yang ada bukan nerusin baca, tapi ngantuk dan tutup cerpennya. Contoh yang baik buat opening adalah:

Kota itu habis, tinggal tersisa ujung-ujung gedung bangunan tingginya. Seekor kambing bernama Bartus menghela napas. Ekor panjangnya ia lingkarkan ke pantat dan perut. Cuaca dingin. Bersama Duma, anjing bertanduk yang jadi sahabatnya, Bartus meringkuk di geladak kapal. Di sekitarnya, kaki manusia-manusia beruntung pengikut kebenaran tampak memucat.

Cara membuat opening yang bagus:
a. Jangan terjebak kata-kata puitis
 Terjebak kata-kata puitis kadang membuat opening-mu bertele-tele. Menulis dengan bermain-main kata itu bagus, tapi perhatikan bahwa opening yang bagus adalah opening yang tidak membuat ngantuk pembaca. Kata-kata puitis boleh kamu masukkan, asal tidak berlebihan. Sesuai porsi sebagai pembuka, jangan sampai kata-kata puitis mendominasi "jeratan" yang mestinya ada dalam opening.
b. Buat "jeratan" 
Yang namanya "menjerat", pasti tidak jauh-jauh dari menahan, menyandera, atau mengikat. To the point, itu kuncinya. Ada dua pedoman yang bisa kamu jadikan pancingan. Pertama, apa konfliknya? Dan ketiga, apa akibat yang bisa terjadi dari konflik itu? Pilih satu dari kedua pertanyaan ini untuk memfokuskan opening.
c. Buat opening yang beda
 artinya jangan nyama-nyamain dengan opening yang sudah terlalu sering dipakai. Misal adegan bangun pagi si tokoh yang diawali dengan bunyi alarm atau telepon. Hmm, rasanya opening seperti itu sudah jadul banget, Sobat. Coba cari sisi lain seandainya kamu memang pengen bikin adegan bangun pagi si tokoh.
d. Jangan buka cerpenmu dengan dialog-dialog yang kurang begitu penting.


4. Ending yang Membekas
Ending adalah akhir sebuah cerita. Ending yang baik adalah yang membekas di hati pembaca. Yang namanya membekas, bisa menyenangkan, bisa juga menyebalkan. Coba ingat kejadian apa yang paling berkesan dalam hidupmu. Pasti kebanyakan yang nyebelin. Iya atau iya? :p Kejadian menyenangkan lebih jarang kita ingat. Maka buatlah ending yang menyebalkan bagi pembaca.

Lha kok malah gitu? Aya-aya wae Kakak ini!

Ini gak main-main. Ending menyebalkan yang saya maksud adalah ending yang menampar, ngagetin, kurang ajar, dan nggantung. Berikut cara-cara membuat ending yang seperti itu:
a. Simpan rahasiamu, jangan sampai ketahuan!
 Maka kamu akan menemukan ending yang menampar dan ngagetin di cerpenmu. Penulis harus pintar menyimpan rahasia dalam sebuah cerita untuk nanti disajikan di akhir cerita. Contoh: Kamu nulis dari sudut pandang sepeda. Maka "aku" adalah sesosok sepeda. Dia hidup, bisa berpikir, punya perasaan seperti manusia. Hanya saja dia tidak bisa bicara. Si sepeda ini jatuh cinta sama manusia pemiliknya. Sayangnya, sepeda ini tidak bisa bicara. Nah, kamu buat seolah mereka sepasang sahabat, pergi ke mana-mana selalu bareng, gak peduli hujan atau panas. Pokoknya selalu bersama. Yang dimaksud menyimpan rahasia adalah: jangan sampai pembaca tahu wujud asli "aku". Gimana caranya? Ya jangan sebut bahwa "aku" itu sepeda. Sebut saja bahwa "aku" adalah teman baik manusia itu. Sepanjang cerita jangan sampai bocor rahasiamu, kecuali di akhir cerita.
b. Jangan buat ending yang sudah sering dipakai 
Seperti opening, ending yang pasaran pun juga mesti kita hindari, agar cerita kita tidak lantas dilupakan oleh pembaca. Supaya berkesan, hindari membuat ending klise.


4. Menembus Media Massa

Siapa tidak mau tulisan dimuat di koran/majalah dan dibaca banyak orang? Saya rasa setiap penulis pasti mau. Caranya? Cuma satu: kirim! Ke mana? Ya ke email media massa dong, masa ke rumah mantanmu (ini pun kalau punya mantan). Beberapa teman sering curhat pada saya mengenai tenggat waktu menunggu cerpen di media atau bagaimana agar cerpen kita dimuat di media-media dengan visi-misi berbeda, dan lain sebagainya. Berikut ini cara-cara yang biasa saya pakai:
1. Tulis cerpen minimal satu judul setiap hari. Kalau bisa lebih, ya bagus.
2. Jajal semua genre. Jangan main di zona aman, karena ada banyak media yang menerima cerpen dengan berbagai segmen pembaca.
3. Baca tiap cerpen yang ada di semua media, baik lokal maupun nasional. Untuk media lokal yang tidak dijual di daerah kita, bisa cari epaper-nya. Ini demi mencari tahu model cerita yang disukai media tersebut. Tidak mungkin kita kirim cerita hantu gentayangan ke majalah Ummi, 'kan?
4. Setelah kirim, lupakan cerpen itu. Jangan banyak mikir dan ngarep bakal dimuat. Yakinlah, lupakan! Karena masa tunggu cerpen bisa jadi tiga bulan atau lebih. Saya pernah dengar seorang teman dimuat cerpennya setelah menunggu 11 bulanan. Kalah dah ibu hamil. Hahaha.
5. Honor memang penting, tapi kalau belum apa-apa, belum nulis sudah mikirin honor, saya gak yakin tulisanmu bagus. Maka jangan dulu mikir itu. Yang penting gimana biar cerpen yang kita kirim tadi bagus. Ya, belajar dan belajar.

6. Sabar! Jangan kirim satu cerpen ke beberapa media sekaligus hanya karena pengen segera dimuat atau pengen dapat honor dobel-dobel. Itu gak baik! Hindari hal itu. Saya pribadi selalu berusaha membuat cerpen baru untuk satu kali kirim. Mengikuti saran teman yang sudah lebih dulu malang melintang di media massa, baiknya kita lupakan saja sebuah cerpen yang dikirim. Kalau sudah setahun lebih tidak ada kabar pemuatan, bisa kita tarik cerpen tersebut. Ada juga yang melebihi batas 3 bulan tidak kunjung dimuat (di media lokal; karena media nasional bisa jauh lebih lama), lalu mengirim email penarikan karya agar tidak terjadi pemuatan ganda sehingga bisa kirim cerpen tersebut ke media lain. Intinya, hindari mengirim cerpen yang sama dalam waktu bersamaan ke beberapa media. Beberapa penulis mungkin menganggap pemuatan ganda tidak masalah. Tapi beberapa redaktur tidak suka itu. Jadi, mau pilih mana? Terus eksis atau di-blacklist? Kalau menurut saya sih, jangan sampai kita di-blacklist.
7. Satu hari satu cerpen? Idenya dari mana? Buatlah hidupmu simpel. Tulis saja apa yang ada. Hal-hal sederhana bisa jadi cerpen. Cerpen bagus tidak harus selalu berangkat dari gagasan megah dan brilian. Soal remeh temeh macam tempat sampat pun, kalau kita pintar, bisa jadi cerpen. Kepekaan perlu dilatih, juga kebiasaan. Memang mulanya susah satu cerpen satu hari, apalagi lebih. Tapi kalau terbiasa, yakinlah tidak ada kata sulit. Kuncinya dorong dirimu, ingatkan hatimu pada tujuan yang mau kaucapai dari kegiatan menulis ini, dan buang rasa malas.
8. Manusia bukan mie instan. Kalau baru kirim 4-5 cerpen tapi gak dimuat-muat dan kamu putus asa lalu kamu berhenti, itu artinya kamu cemen. Apalagi sampai menyalahkan redaktur karena tidak memilih karyamu untuk dimuat, itu namanya tidak dewasa. Saya sebelum bisa nembus media, sudah kirim seratusan cerpen. Sebagian buat lomba, sebagian ke media. Artinya, puluhan cerpen saya ditolak media. Setelah dimuat, sampai hari ini saya makin rajin kirim minimal satu cerpen satu hari. So, nikmati prosesmu dan jangan putus asa.


Nah, gimana? Udah lebih dari lengkap kan? Luar biasa banget bang Hanggara yaa. Kita doakan semoga ilmunya semakin bertambah, rezekinya lapang dan semakin murah hati dalam berbagi. aamiinn..

*Tulisan ini bermanfaat?
Silahkan LIKE, KOMEN dan SHARE ya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar