Menulis Cerpen bagi Ken Hanggara bukan lagi sebuah hal langka. Ia telah menoreh berbagai prestasi dalam tulis menulis, terutama Cerpen, mulai dari skala lokal sampai nasional. Dan, tips-tips yang akan dibagikannya kepada kita kali ini adalah salah satu tulisannya yang dimuat dalam buku "Menulis Cerpen Itu Gampang" karya Ken Hanggara, penerbit Unsa Press, 2015. Yuk langsung disimak dengan seksama!
1. Judul yang Memikat
Judul ibarat wajah, kepala, baju, dan
segala asesoris yang dipakai "seorang" cerpen. Semua terlihat dari
luar. Maka sepatutnya judul dibuat memikat, mengikat, mengundang rasa penasaran
dengan sejuta tanda tanya. Kamu percaya cinta pada pandangan pertama? Love
at the first sight? Bagi sebagian orang itu omong kosong. Tapi percayalah,
bagi pembaca cerpen, cinta semacam itu wajib!
Cerpenmu gak menarik minat pembaca jika
judul yang kamu buat ngebosenin, jadul, klise (itu-itu saja), bikin ngantuk,
dan pasaran. Maka buatlah gebrakan baru soal judul. Dan satu lagi, jangan
ikut-ikutan!
Cara membuat judul yang bagus adalah
sebagai berikut:
a. Gunakan kata-kata yang tidak
lazim
Tapi, jangan sampai gak ada hubungan dengan isi cerpenmu. Ibaratnya
kamu punya kebun mangga tapi di pagar depan ada tulisan: "Ternak
Sapi". 'Kan gak lucu? Buat kata-kata yang tidak lazim tapi tetap berpegang
pada isi cerpenmu. Contoh judul yang tidak lazim ini misalnya:
"Travelogue" (judul salah satu cerpen Seno Gumira Ajidarma).
b. Kreatif alias jangan meniru-niru
Misal kamu lihat temen bikin cerpen judulnya "Ketika Senja Menjadi
Tangis", kamu tertarik lalu bikin "Ketika Pagi Menjadi Tangis".
Padahal ceritamu beda jauh sama cerita temenmu, atau malah beda jauh sama judul
itu sendiri. Duh, keliatan maksa nyonteknya. Buat judul yang sekiranya belum pernah
ada. Contoh: "Minus Menangis".
c. Buat pembaca penasaran dengan
judulmu
Gimana caranya biar orang
penasaran? Jawabnya adalah saat kamu merasa penasaran dengan cerpen orang lain
sesaat setelah baca judulnya (ya iyalah!). Caranya dengan membuat judul yang
berpusat pada konflik. Misal kamu nulis tentang ibu yang diam-diam rela lapar
demi anaknya. Ibu itu kemudian sakit dan pingsan di tepi jalan. Maka judulnya
bisa begini: "Maaf, Jatah Makan Malammu Kuambil, Bu." Kira-kira penasaran,
gak? Kok ada ya, anak yang tega ngambil makanan ibunya. Pasti yang ada di
pikiran pembaca itu. Padahal aslinya enggak.
d. Hindari memakai pola judul yang sama dengan orang lain
Misal kamu
seneng ngelihat judul novel terkenal "Ayat-Ayat Cinta", lalu kamu
merasa kagum dan pengen punya karya fenomenal juga, hingga membuat judul yang
kira-kira berbunyi: "Surat-Surat Cinta", "Jari-Jari Cinta",
"Daun-Daun Cinta" -_- Tidak salah kok membuat judul dengan pola yang
sama dengan judul yang sudah ada. Cuma ya jangan keseringan, nanti pembaca
bosan dan malah mungkin enggan membaca cerpen kita. Ingat, terobosan,
terobosan!
e. Sesuaikan judul dengan target
pembacamu. Kalau kamu nulis cerpen untuk remaja, judul seperti "My
Sweet Diary" boleh-boleh saja. Tapi masa iya kita nulis cerpen untuk
anak-anak, malah dibikin judul: "Ketika Aku Terjerat Dilema". Gak
cocok banget, 'kan?
Yang tak kalah penting dari penulisan
judul adalah: Buatlah judul setelah cerpenmu selesai. Ini lebih
mudah membuatmu mengembangkan cerita dengan bebas meski dalam satu konflik.
Kamu tidak akan macet hanya karena terikat oleh judul yang sudah ditetapkan.
Tapi ada juga sih, yang lebih mudah menulis dengan membuat judul lebih dulu.
Itu sah-sah saja. Tinggal pilih mana yang kamu nyaman.
2. Opening yang Menjerat
Kalau judul ibarat penampilan luar,
maka opening adalah tingkah laku. Attitude! Bayangin, kamu ketemu
orang baru, kenalan baru. Kelihatannya sih asyik, seru, baik, ramah, sopan...
ah, pokoknya perfect lah. Eh, ternyata, setelah kenal beberapa menit
aja, kamu udah bosen hanya karena cara bicara dia yang tidak sopan atau kurang
ajar. Nah, judul yang bagus saja tidak cukup
untuk cerpenmu. Opening yang bagus juga penting lho. Karena sejak
kalimat-kalimat pertama, orang akan tahu dia mau atau tidak meneruskan membaca
cerpenmu. Maka, opening harus menjerat, nendang, mengundang penasaran,
menggugah perasaan, dan menyimpan kejutan.
Contoh opening yang ngebosenin
kira-kira begini:
Matahari bersinar begitu terik,
membelai rerumputan di halaman depan rumahku, sekaligus mengurung hatiku yang
sepi dan sendiri dirundung gundah gulana. Pohon-pohon berbaris riang di
sepanjang jalan depan, tapi aku meriang dan merana di tepi jendela. Ada awan
berarak yang nampak malu-malu. Aku menangis mengingat segala luka masa laluku.
Ini bosen banget, kurang menggairahkan.
Yang ada bukan nerusin baca, tapi ngantuk dan tutup cerpennya. Contoh yang baik
buat opening adalah:
Kota itu habis, tinggal tersisa ujung-ujung
gedung bangunan tingginya. Seekor kambing bernama Bartus menghela napas. Ekor
panjangnya ia lingkarkan ke pantat dan perut. Cuaca dingin. Bersama Duma,
anjing bertanduk yang jadi sahabatnya, Bartus meringkuk di geladak kapal. Di
sekitarnya, kaki manusia-manusia beruntung pengikut kebenaran tampak memucat.
Cara membuat opening yang bagus:
a. Jangan terjebak kata-kata puitis
Terjebak kata-kata puitis kadang membuat opening-mu
bertele-tele. Menulis dengan bermain-main kata itu bagus, tapi perhatikan
bahwa opening yang bagus adalah opening yang tidak membuat
ngantuk pembaca. Kata-kata puitis boleh kamu masukkan, asal tidak berlebihan.
Sesuai porsi sebagai pembuka, jangan sampai kata-kata puitis mendominasi
"jeratan" yang mestinya ada dalam opening.
b. Buat "jeratan"
Yang
namanya "menjerat", pasti tidak jauh-jauh dari menahan, menyandera,
atau mengikat. To the point, itu kuncinya. Ada dua pedoman yang bisa
kamu jadikan pancingan. Pertama, apa konfliknya? Dan ketiga, apa
akibat yang bisa terjadi dari konflik itu? Pilih satu dari kedua pertanyaan
ini untuk memfokuskan opening.
c. Buat opening yang beda
artinya jangan nyama-nyamain dengan opening yang sudah terlalu
sering dipakai. Misal adegan bangun pagi si tokoh yang diawali dengan bunyi alarm
atau telepon. Hmm, rasanya opening seperti itu sudah jadul banget,
Sobat. Coba cari sisi lain seandainya kamu memang pengen bikin adegan bangun
pagi si tokoh.
d. Jangan buka cerpenmu dengan
dialog-dialog yang kurang begitu penting.
Ending adalah akhir
sebuah cerita. Ending yang baik adalah yang membekas di hati pembaca.
Yang namanya membekas, bisa menyenangkan, bisa juga menyebalkan. Coba ingat
kejadian apa yang paling berkesan dalam hidupmu. Pasti kebanyakan yang
nyebelin. Iya atau iya? :p Kejadian menyenangkan lebih jarang kita ingat. Maka
buatlah ending yang menyebalkan bagi pembaca.
Lha kok malah gitu? Aya-aya wae Kakak
ini!
Ini gak main-main. Ending menyebalkan
yang saya maksud adalah ending yang menampar, ngagetin, kurang ajar, dan
nggantung. Berikut cara-cara membuat ending yang seperti itu:
a. Simpan
rahasiamu, jangan sampai ketahuan!
Maka kamu akan menemukan ending yang
menampar dan ngagetin di cerpenmu. Penulis harus pintar menyimpan rahasia dalam
sebuah cerita untuk nanti disajikan di akhir cerita. Contoh: Kamu nulis dari
sudut pandang sepeda. Maka "aku" adalah sesosok sepeda. Dia hidup,
bisa berpikir, punya perasaan seperti manusia. Hanya saja dia tidak bisa
bicara. Si sepeda ini jatuh cinta sama manusia pemiliknya. Sayangnya, sepeda
ini tidak bisa bicara. Nah, kamu buat seolah mereka sepasang sahabat, pergi ke
mana-mana selalu bareng, gak peduli hujan atau panas. Pokoknya selalu bersama.
Yang dimaksud menyimpan rahasia adalah: jangan sampai pembaca tahu wujud
asli "aku". Gimana caranya? Ya jangan sebut bahwa "aku"
itu sepeda. Sebut saja bahwa "aku" adalah teman baik manusia itu.
Sepanjang cerita jangan sampai bocor rahasiamu, kecuali di akhir cerita.
b. Jangan buat ending
yang sudah sering dipakai
Seperti opening,
ending yang pasaran pun juga mesti kita hindari, agar cerita kita tidak
lantas dilupakan oleh pembaca. Supaya berkesan, hindari membuat ending klise.
4. Menembus Media
Massa
Siapa tidak mau tulisan dimuat di
koran/majalah dan dibaca banyak orang? Saya rasa setiap penulis pasti mau. Caranya?
Cuma satu: kirim! Ke mana? Ya ke email media massa dong, masa ke rumah mantanmu
(ini pun kalau punya mantan). Beberapa teman sering curhat pada saya
mengenai tenggat waktu menunggu cerpen di media atau bagaimana agar cerpen kita
dimuat di media-media dengan visi-misi berbeda, dan lain sebagainya. Berikut
ini cara-cara yang biasa saya pakai:
1. Tulis cerpen minimal satu judul
setiap hari. Kalau bisa lebih, ya bagus.
2. Jajal semua genre. Jangan
main di zona aman, karena ada banyak media yang menerima cerpen dengan berbagai
segmen pembaca.
3. Baca tiap cerpen yang ada di semua
media, baik lokal maupun nasional. Untuk media lokal yang tidak dijual di
daerah kita, bisa cari epaper-nya. Ini demi mencari tahu model cerita
yang disukai media tersebut. Tidak mungkin kita kirim cerita hantu gentayangan
ke majalah Ummi, 'kan?
4. Setelah kirim, lupakan cerpen itu.
Jangan banyak mikir dan ngarep bakal dimuat. Yakinlah, lupakan! Karena
masa tunggu cerpen bisa jadi tiga bulan atau lebih. Saya pernah dengar seorang
teman dimuat cerpennya setelah menunggu 11 bulanan. Kalah dah ibu hamil.
Hahaha.
5. Honor memang penting, tapi kalau
belum apa-apa, belum nulis sudah mikirin honor, saya gak yakin tulisanmu bagus.
Maka jangan dulu mikir itu. Yang penting gimana biar cerpen yang kita
kirim tadi bagus. Ya, belajar dan belajar.
6. Sabar! Jangan kirim satu cerpen ke
beberapa media sekaligus hanya karena pengen segera dimuat atau pengen dapat
honor dobel-dobel. Itu gak baik! Hindari hal itu. Saya pribadi selalu berusaha
membuat cerpen baru untuk satu kali kirim. Mengikuti saran teman yang sudah
lebih dulu malang melintang di media massa, baiknya kita lupakan saja sebuah
cerpen yang dikirim. Kalau sudah setahun lebih tidak ada kabar pemuatan, bisa kita
tarik cerpen tersebut. Ada juga yang melebihi batas 3 bulan tidak kunjung
dimuat (di media lokal; karena media nasional bisa jauh lebih lama), lalu
mengirim email penarikan karya agar tidak terjadi pemuatan ganda sehingga bisa
kirim cerpen tersebut ke media lain. Intinya, hindari mengirim cerpen yang sama
dalam waktu bersamaan ke beberapa media. Beberapa penulis mungkin menganggap
pemuatan ganda tidak masalah. Tapi beberapa redaktur tidak suka itu. Jadi, mau
pilih mana? Terus eksis atau di-blacklist? Kalau menurut saya sih,
jangan sampai kita di-blacklist.
7. Satu hari satu cerpen? Idenya dari
mana? Buatlah hidupmu simpel. Tulis saja apa yang ada. Hal-hal sederhana bisa
jadi cerpen. Cerpen bagus tidak harus selalu berangkat dari gagasan megah dan
brilian. Soal remeh temeh macam tempat sampat pun, kalau kita pintar, bisa jadi
cerpen. Kepekaan perlu dilatih, juga kebiasaan. Memang mulanya susah satu
cerpen satu hari, apalagi lebih. Tapi kalau terbiasa, yakinlah tidak ada kata
sulit. Kuncinya dorong dirimu, ingatkan hatimu pada tujuan yang mau kaucapai
dari kegiatan menulis ini, dan buang rasa malas.
8. Manusia bukan mie instan. Kalau baru
kirim 4-5 cerpen tapi gak dimuat-muat dan kamu putus asa lalu kamu
berhenti, itu artinya kamu cemen. Apalagi sampai menyalahkan redaktur
karena tidak memilih karyamu untuk dimuat, itu namanya tidak dewasa. Saya
sebelum bisa nembus media, sudah kirim seratusan cerpen. Sebagian buat lomba,
sebagian ke media. Artinya, puluhan cerpen saya ditolak media. Setelah dimuat,
sampai hari ini saya makin rajin kirim minimal satu cerpen satu hari. So, nikmati
prosesmu dan jangan putus asa.
Nah, gimana? Udah lebih dari lengkap kan? Luar biasa banget bang Hanggara yaa. Kita doakan semoga ilmunya semakin bertambah, rezekinya lapang dan semakin murah hati dalam berbagi. aamiinn..
*Tulisan ini bermanfaat?
Silahkan LIKE, KOMEN dan SHARE ya..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar