![]() |
| Foto: Koleksi Pribadi |
Romii Kurniadi ini adalah juniorku di Pendidikan Ekonomi. Dia adalah sosok yang multi talent; Bisa debat, bisa nulis, bisa nyanyi, bisa nyiptain lagu, pokoknya multi bisa deh, heheee. Nah, kali ini dia akan berbagi tips menulis Cerpen kepada kita semua. Yuk simak dan langsung dipraktekkan jurus nulis cerpen ala Romii...
1. Diksi yang ringan tapi mengalir
Banyak sekali penulis yang sengaja memilih diksi yang tidak lazim digunakan dan sulit difahami untuk menarik perhatian pembaca. Tapi, tidak demikian halnya dengan Romi Kurniadi. Ia lebih suka dan menyarankan untuk menggunakan diksi yang ringan saja. Ia sangat mengidolakan Tere Liye, jadi wajar saja jika ia pun tertulari gaya penulisannya yang sederhana namun tetap syarat makna.
2. Sudut pandang orang pertama lebih 'greget'
"Tidak semua orang bisa menulis dengan sudut pandang orang ketiga. Untuk pemula, lebih baik berlatih dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, supaya lebih dapat feelnya," jelasnya.
3. Nulis itu pakai HATI
"Nulis itu adalah seni, nggak boleh ngawur apalagi ngasal. Menulislah dengan hati. Karena apa yang ditulis dengan hari pasti akan diterima pula dengan hati," tuturnya dengan antusias.
Cerpen Romi Kurniadi
Paksa Aku, Mbak!
AAAHHHHHH!!! APA-APAAN SIH KAMU, MBAKKK!!! AKU TU CAPEK!!! AKU MAU ISTIRAHAT!!! PLIIISSSSS!!!! BERHENTILAH SMS!!! AHHH, HARIKU BENAR-BENAR BURUK. JADI BERHENTILAH MEMPERBURUK HARIKU, MBAK!!!
***
“Baik, selanjutnya adalah sesi Tanya jawab. Silahkan angkat tangan, perkenalkan diri, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan.” Moderator membuka sesi Tanya jawab. Sesaat sudah terlihat beberapa tangan terangkat. “ya, yang baju biru silahkan.” Ujarnya mempersilahkan
“Assalamualaikum. Nama saya Vera. Gini mas, kalau saya lihat mas Adi kan sudah cukup lumayan pengalamannya di dunia kepenulisan. Kenapa sih mas kok bisa suka banget dunia kepenulisan? Siapa tahu kami yang hadir di sini bisa dapat inspirasi dari motif mas menulis.” Sebuah pertanyaan terlayang. Aku tersenyum. Pertanyaan yang terdengar gampang, tapi pasti akan membuatku kerepotan membongkar kenangan itu. Ah,, aku malu sekali mengingatnya. Tapi aku berjanji tidak akan melupakannya.
***
Awan bergumul, menggumpal dalam kumparan lembut langit. Kagum menggandeng cemas bercampur, namun seketika lebur dalam rasa syukur. Fabiayyi aala irobbikuma tikazdiban. tak ada yang bisa kudustakan atas segala nikmatmu, ya rabb. Hanya rekahan senyum menggamit hamdalah yang mampu ku hatur. tak ada yang lain.
Tak terhitung berapa kali kepalaku melongok di samping jendela pesawat, memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Ya, ini nyata! Sejurus euporia yang menggelegak dalam aliran darah membawaku pada sebuah ingatan tentang betapa beruntungnya aku. Betapa langit mencintaiku dengan mengirimkan seorang wanita yang membantu mewujudkan salah satu mimpi besarku; Terbang bersama Burung Besi.
Sesekali ku alihkan pandangan, dan di sana kutemukan sosok yang untuk memandangnya terkadang aku malu. Malu mengingat bagaimana bengalnya aku. Malu mengingat betapa besar kebencianku. Malu menyadari betapa tak tahu dirinya aku. Hingga aku hanya mampu mengirim berjuta doa untuk semua kebaikannya padaku. Untuk semua kebaikan hati yang murni tanpa sebuah obsesi. Jika pun ada obsesi, aku yakin itu adalah keinginan mengajak orang lain dalam kebaikan.
***
Langit mempertemukan kami sore itu. Mungkin tepatnya mempertemukan dalam misi, karena kami sudah bertemu sebelumnya. Saat itu aku masih menyandang gelar mahasiswa tingkat tiga. Di sebuah ruangan hangat di BEM FKIP Universitas Riau, aku berniat menanyakan beberapa hal terkait kegiatan jadwal latihan Sanggar Binar yang merupakan sanggar bentukan BEM. Aku celingukan.
“Masuk, Dek. Mau ketemu siapa?” Tanya seorang kakak dengan jilbab lebarnya
“Eh, mau ketemu Bang Hendra ada, Kak?” ujarku
“Bang Hendra lagi pergi, Dek. Anak sanggar ya?” tanyanya lagi. Aku mengangguk. “Masuk aja dulu, mungkin Bang Hendra bentar lagi datang.” Tambahnya. Untuk kedua kalinya aku mengangguk.
“Dek Romi. Sini…” belum sempat aku duduk sebuah suara dari sisi lain ruangan BEM memanggil namaku.
“Loh, Mbak Elis anak BEM ya?” tanyaku sambil menghampiri sumber suara.
“Nggak, Dek. Mbak lagi ada perlu aja sama Kak Dita. Sini, ada informasi bagus ni.” aku mendekat, penasaran. “Ikut MAWAPRES yuk, Dek?” aku mengrenyitkan dahi.
“Romi suka nulis jugakan?” ujar kak Dita sambil menyodorkan sebuah brosur. “Nah, ini ada pemilihan Mahasiswa Berprestasi. Seleksinya tingkat Fakultas dulu, Dek.”
“Terus, hubungannya sama suka nulis apa, Kak?” aku tak paham
“Seleksinya itu selain penilaian prestasi, juga harus buat karya tulis ilmiah, Dek. Setelah itu dipresentasikan.” Jelas Kak Dita.
“Iya, Dek. Ikutlah. Mbak tahun lalu dah ikut. Tapi belum berhasil. Jadi mau ikut lagi.” Ujar Mbak Elis. “Pokoknya Romi harus ikut ya.” Tambahnya.
“Eh, insyaalloh, Mbak.” Ucapku tak yakin.
“Sip, Mbak tunggu perkembangannya.”
Penappucino | 14
“Ok, Mbak.”
Aku sama sekali tidak berpikir bahwa aku benar-benar harus mempertanggungjawabkan ‘insyaalloh’ yang kuucapkan. Karena sebenarnya aku benar-benar tak berniat untuk mengikuti Mawapres. Menulis memang salah satu hobiku. Tapi aku hanya suka cerpen, bukan karya tulis ilmiah. Ahh, jangankan menulis. Membayangkan saja sudah mau muntah rasanya. Saat aku mengatakan mau ikut dan mengatakan ‘insyaalloh’ aku hanya tak ingin berlama-lama dengan penawaran orang BEM yang sudah seperti sales dikejar target penjualan.Tapi kali ini aku benar-benar salah menyepelekan ‘insyaallohku’, dan aku dimintai pertaaggungjawaban.
Hari yang masih hijau, menggeliat di tengah dekapan sejuk embun. Hujan semalam menyisakan genangan air dan rasa dingin yang membuat tubuh enggan bergerak, hanya sesekali berguling dengan selimut menutupi tubuh. Hari Minggu, ditambah suasana yang begitu mendukung untuk melanjutkan perjalanan mimpi. Ah, indah sekali.
DREEETTTT
Telepon genggamku bergetar. Masih dengan bermalas-malasan tanganku mencoba meraih perangkat komunikasi yang entah di bagian kasur mana ku letakkan. Sebuah pesan masuk,
Assalamualaikum.
Dek, gimana kabar KTImu?
Dua kalimat dalam pesan singkat itu sukses meruntuhkan rasa kantuk yang susah payah kujaga. Jangankan memulai untuk menulis, memikirkannya saja tidak pernah. Lagi pula, bagaimana mungkin ada manusia sepagi ini mengirim pesan singkat hanya ingin menanyakan KTI. Heleh, aku yakin cuci muka saja belum. Malah memikirkan KTI. Benarbenar tak penting.
Walaikumsalam. Belum mulai mbak… Aku membalas singkat, dan mulai menarik selimut lagi. Rupanya butuh usaha untuk mengembalikan bangunan kantuk yang sempat ambrol dibeberapa bagian. Tapi aku masih mencoba untuk memajamkan mata. Sedikit demi sedikit kantuk mulai memeluk. Ahh,,, nyaman sekali pagi ini.
DREEETT
AMPUUUNNNN!!! siapa lagi ini. Dengan kesal aku membuka telepon genggamku. Satu lagi pesan singkat masuk.
Buruan dikerjain, Dek. Jangan ditunda-tunda. Nanti nggak bakalan selesai. Mbak tunggu pokoknya!
Aiihh, sudah macam debtcollecttor saja dia. Tapi yang ini bukan menagih uang, tapi menagih tulisan. Aku benar-banar tak habis pikir.
Ok kak.
Aku kembali membalas. Lalu kuposisikan perangkat komunikasiku pada mode terbang, melemparnya ke sisi lain kasur dan kembali tidur.
Jika kalian bertanya kepadaku bagaimana rasanya menjadi penduduk yang terjajah, maka aku yakin bisa menjelaskannya dengan baik. Aku tahu benar menjadi orang yang tidak merdeka. Menjadi orang yang hari-harinya dikekang oleh manusia dengan kadar ambisi berlebihan, diteror siang malam. Pagi itu adalah awal kemerdekaanku direnggut. Setiap hari menelan kenyataan pahit bahwa aku adalah pesakitan yang harus selalu diingatkan untuk mengerjakan tulisan. ‘kamu harus mulai menulis, menulis itu akan membawa kejayaan, jangan tunggu sampai orang lain menyelesaikan mimpi kita, dan bla bla lainnya.
Tidak kenal waktu, tidak kenal tempat. Kurasa selagi ia ada kesempatan untuk meneror, maka seketika itu dia laksanakan. Bahkan ditengah perkuliahan siang itu, ia sanggup melakukannya. Iya, siang itu ditengah perkuliahan telepon genggamku bergetar. Sebuah panggilan. Mbak elis. Aku matikan, lalu ku kirimkan sebuah sms. ‘aku masuk, mbak.’ tak butuh berapa lama datang balasan.
Bisa ketemu mbak sore ini? Ada yang mbak mau bicarakan.
Ya Tuhan, aku sudah tahu dengan jelas dan pasti apa yang ia maksud dengan pembicaraan. Ah, kali ini aku tidak akan membiarkannya. Aku harus segera lari.
Maaf, Mbak. Romi ada kuliah sampai sore.
Untuk kesekian kalinya aku mematikan jaringan telepon genggamku. Aku harus melawan. Melawan penjajah. Maka kuhabiskan sisa jam pelajaran dengan sejuta pikiran untuk mendeklarasikan kemenanganku. Aku kini bebas. Biarkan saja dia dengan teror-terornya, jika kuabaikan, pasti lama-lama bosan juga.
Tapi bagai melukis awan. Mustahil. Ternyata penjajah lebih hebat. Atau aku masih terlalu bodoh dalam strategi. Setelah perkuliahan usai aku berjalan menyusuri koridor kampus. Ingin rasanya cepat pulang dan merebahkan badan yang rasanya sudah remuk redam. Namun hanya sejurus saja kaki melangkah, ekspektasiku hancur sudah. Kutemukan sosoknya duduk manis di depan koridor. Hendak berbalik arah, tapi termbat melangkah.
“Dek!!!” alamak, habislah aku.
“Eh, mbak.”
“Sini bentar. Kita ngobrol bentar.” Aku nurut. Sudah tak ada lagi usaha yang bisa kulakukakn. Mau kabur, tapi sudah terlanjur.
“Ada apa, Mbak?” aku pura-pura tak tahu.
“Gimana bahan KTImu?” ha, benarkan. Lagi-lagi KTI.
“Hehe, belum selesai, Mbak.” Jawabku kecut.
“Gimana sih, Dek. Besok udah hari terakhir pengumpulan lo.” Ujarnya sedikit kecewa. “tapi nggak masalah, Dek. Masih ada waktu untuk mengerjakan.”
“Tapi aku lagi sibuk banget lo, Mbak. Banyak tugas.” Selaku
“Dek, semua orang itu sibuk…”’
“Tapi aku gak sama kayak semua orang. Aku harus fokus, Mbak.” Potongku. Nada bicaraku mulai tinggi. Aku terdiam, sedikit merasa bersalah. Dia ikut terdiam. Menatapku sejenak dan menghembuskan napas.
“Dek…” ia berujar lembut. tak sesemangat biasanya. “Kamu tau nggak kenapa mbak begitu pengen kamu ikut Mawapres? Nulis KTI?” ia berhenti sejenak. “Mbak pengen anak Pendidikan Ekonomi nggak kalah hebat dengan anakanak PMIPA. Karena mbak yakin, kalau banyak sekali potensi yang belum benar-benar tersalurkan. Mbak yakin Romi bisa nulis. Mbak yakin semua itu.”
“selesaikan tulisanmu ya, Dek.”
Mbak elis menyelesaikan kalimat panjangnya. Aku hanya terdiam. Pikiranku berkecamuk. Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa berprasangka buruk dengan obsesi semacam ini. Hari ini aku yakin bahwa orang baik masih ada. Aku yakin masih banyak motif baik dari sebuah tindakan.
“Baik, Mbak. Romi akan kerjakan.”
***
“Jadi, mas berhasil jadi Mahasiswa Berprestasi?” penanya itu menyela ceritaku.
“Tidak, hari itu saya belum berhasil. Setelah semalaman suntuk berjibaku dengan buku seumbruk, ditambah lagi kejaran dead line, saya berusaha menyelasaikan KTI. Tepat pukul empat dini hari, barulah tulisan saya selasai.” Aku berhenti sejenak. “Tapi itu semua belum selesai. Pagi harinya saya masih kebingungan mencari dosen pembimbing, urusan administrasi, dan menyiapkan power point. Tapi sekali lagi saya katakan, saya belum berhasil. Hingga beberapa minggu kemudian, usai seleksi Mawapres, dan akhirnya kabar baik datang. Wanita itu berhasil menjadi juara tiga Mawapres Universitas Riau.”
“terus, soal mimpi mas yang berhasil terwujud itu apa?” si penanya mulai tak sabaran. Aku tersenyum.
“setelah kabar baik itu, ia datang lagi dengan membawa kabar baik yang lain. Mengajak saya menjadi anggota kelompok lomba karya tulis ilmiah nasional, hingga membawa kami sebagai finalis, dan berakhir pada penobatan sebagai juara favorit tingkat Nasional. Dan impian terbesar itu….” Aku berhenti lagi. “Naik pesawat gratis.” Ujarku tersenyum. Peserta pelatihan penulisan mengangguk takzim.
“jadi.” Aku melanjutkan bicara.” Jika ditanya mengapa saya begitu cinta dengan dunia kepenulisan? Jawabannya adalah, karena ada orang baik yang mengajari saya makna berjuang lewat tulisan. Untuk semua kebaikannya itu, saya berjanji tidak akan berhenti menulis dan menebarkan kebaikan melalui tulisan.”
Seketika ruangan bergemuruh oleh tepuk tangan. Maka hanya hamdalah yang terlantun sebagai bukti syukur.
Terimakasih sudah memaksaku, Mbak.
*Tulisan ini bermanfaat?
Silahkan LIKE, KOMEN dan SHARE yaa.

Semangat nulis, biar makin cantik.
BalasHapusSemangat cantik biar makin nulis.
BalasHapusSemangat cantik biar makin nulis.
BalasHapusTeguh kumat alaynya. Keren Romi Kurniadi :)
BalasHapus