Jumat, 20 November 2015

Nulis Puisi ala Okta Hari Mulya

Foto: Koleksi Pribadi
Oktahari Mulya adalah adik sekaligus sahabat bagiku. Darinya aku banyak belajar nilai-nilai hidup. Selain jago publik speaking sebagai MC, Moderator dan penyiar, Okta juga sangat suka menulis puisi. Ia lebih suka menyiratkan apa yang dirasakannya lewat puisi. Ia juga telah memiliki buku antologi puisinya yang pertama dengan judul Hujan Berwarna Ungu. Ada seorang adik tingkat yang berkata; "Kak, aku suka banget loh dengan puisi-puisinya Bang Okta tuu! Romantis!" akunya kepadaku.


Dalam kesempatan ini, aku berbincang dengannya seputar tips-tips menulis puisi. Berikut ini adalah tips menulis puisi ala Okta Hari Mulya :


1. Bank Diksi
"Sebelum menulis puisi, kita harus mempunya bank diksi (pilihan kata) yang berhubungan dengan tema puisi kita. Terserah mau ditulis atau dikumpulkan dalam ingatan saja. Misalnya, kita ingin menulis tentang cinta. Diksi yang berhubungan dengan cinta itu antara lain; Suka, rayu, jiwa dan seterusnya. Kumpulkanlah sebanyak-banyaknya!" tutur Okta, antusias.


2. Perkaya Pencitraan
"Hidupkan kelima alat indera kita untuk menghidupkan puisi itu. Misalnya; Aku hanya ingin dekat, tapi malah kau tikam jantungku! Nah, itu berarti yang dipakai adalah indera peraba. Ingin ku hadiahkan mega senja padamu, itu contoh penggunaan indera penglihatan. Antara diksi dan pencitraan itu tak terpisahkan. Karena, keduanya saling melengkapi," jelas Okta.


3. Ciptakan Momen
"Misalnya nih, pas ketika kita sedang jalan, eh tiba-tiba ngelihat daun jatuh! Terus, kita heran; 'Kok daun ini jatuhnya pas di depanku ya? Ini mirip banget deh dengan kisahku hari ini!' Nah.. akhirnya terciptalah sebuah puisi dari momen itu. Karena, tanpa momen, puisi kita tu nggak akan ber-ruh!" paparnya dengan mantap.


Puisi-puisi Okta Hari Mulya :

Aku dan bisik lirihku pada tumpuk bantal putih merah itu...
28 Oktober 2015, pukul 21.37wib

Kini aku
Ingin mengukir tanya
Kapan aku bagai mereka
Bila masanya
Tebu akan manis pada ujungnya
bukan pada pangkalnya
Bila pula masanya
Kantuk tidak lagi pada matatapi kantuk ada pada dua bibir
Aneh
Bagaimna mungkin jika tetiba
Aku ingin demikian
Sedangkan demikian bukan aku
Tapi aku akan demikian
Mungkin nanti jika badan sudah paruh baya
Baru tongkat akan melekat
Ataaukah nanti jika putih sdah menyelimuti
yg demikian akan kudapat
26 Oktober 2015, 18.54wib 


Subuh sudah menyapa
Namun kantuk belum jua singgah
Mungkin karena tadi sudah kupejamkan mata
Lalu aku terjag untuk melukis kening dengan sutra
Kapan kantuk akan mengangkang di biji mata
Kapan ktup akan menggerogoti pelipis mata
Mungkin ketika mata hari ternganga di cerah oktober keduapuluh enam
26 Oktober 2015, 04.20wib  


*Merasa tulisan ini bermanfaat?
Silahkan LIKE, KOMEN dan SHARE ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar